Kamis, 06 Januari 2011

Sayyid Qutb di Mata Ibnu Jibrin

رقم الفتوى (5126) موضوع الفتوى حكم تناول الإعجاز العلمي في القرآن والتكلف في ذلك
Fatwa Ibnu Jibrin no 5126
Dengan judul ‘Hukum memaksakan diri untuk menafsirkan al Qur’an dengan sains’
السؤال س:نشرت إحدى الصحف مقالا عن الإعجاز العلمي في القرآن الكريم ونادى صاحب المقال بعدم إقحام القرآن الكريم في النظريات الحديثة لأنها تتبدل ويظهر ما هو أصح منها، فيظهر لعامة الناس أن القرآن قد أخطأ، فما رأي فضيلتكم في هذا الموضوع؟
Pertanyaan, “Sebuah surat kabar memuat artikel mengenai penafsiran al Qur’an dengan sains. Penulis artikel menyerukan untuk tidak memaksakan ayat al Qur’an untuk dimasukkan ke dalam teori iptek modern karena teori iptek itu berubah-ubah. Seiring berkembangnya zaman akan muncul teori yang dinilai lebih akurat. Ketika kita tafsirkan al Qur’an dengan teori ilmiah lalu terbukti bahwa teori tersebut keliru maka masyarakat awam akan beranggapan bahwa al Qur’an ternyata juga keliru. Apa pandangan anda tentang topik ini?”

Kedudukan hadits 'Perselisihan umatku adalah rahmat'

Perselisihan dan kontradiksi pendapat yang mewarnai umat ini, seakan sudah menjadi perkara yang dianggap lumrah. Slogan-slogan dari sebagian orang yang mengatakan : “Perselisihan itu adalah rahmat, jadi diantara kita harus memiliki rasa toleransi”, atau “Kita saling tolong-menolong pada hal-hal yang kita sepakati dan kita bertoleransi pada hal-hal yang kita perselisihkan” pun turut menghiasi, seakan menyetujui perselisihan yang kian larut ini.

Sekilas slogan-slogan tersebut memberi kesejukan dan ketenangan jiwa manusia. Dengan dalih "... walaupun berselisih atau berbeda pemahaman, yang penting ukhuwah (persaudaraan) tetap terjalin." Walhasil ketika bermuamalah, mereka berusaha untuk tidak menyentuh perkara yang diperselisihkan demi menjaga keutuhan ukhuwah. Sekalipun perkara tersebut adalah sesuatu yang prinsip (jelas) hukumnya dalam agama. Sehingga amar ma’ruf nahi munkar sulit dijalankan, karena adanya rambu-rambu toleransi ala mereka.

Selasa, 04 Januari 2011

Ustadz Ali Musri

Biografi Ustadz Ali Musri
Nama lengkap beliau adalah Dr. Ali Musri Semjan Putra, M.A. Beliau lahir di Sumatera Barat, 9 Januari 1972. Saat ini, beliau menjabat sebagai Ketua Sekolah Tinggi Dirasat Islamiyah Imam Syafi’i, Jember, (STDIIS – Jember) dengan alamat Jl. MH. Tamrin, Gg. Kepodang No.5 Jember – Jawa Timur.
Riwayat Pendidikan
Beliau menamatkan Program Bahasa (Syu’batul Lughah) di Universitas Islam Madinah, KSA pada tahun 1995. Setelah itu, beliau melanjutkan kuliah (S-1) di Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Universitas Islam Madinah dan tamat tahun 1999 dengan predikat Cumlaude. Kemudian, beliau melanjutkan kuliah (S-2) di universitas yang sama pada Jurusan Aqidah, Fakultas Dakwah dan Usuluddin dan tamat tahun 2003 dengan predikat Cumlaude. Selanjutkan, beliau meneruskan kuliah (S-3) pada Jurusan Aqidah, Fakultas Dakwah dan Usuluddin (Universitas Islam Madinah) dan lulus 2007 dengan predikat Summa Cumlaude.

Senin, 03 Januari 2011

Akibat Perbuatan Maksiat



Khutbah Jum'at Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin
12 Muharram 1411 Hijriah


Khutbah pertama


Segala puji bagi Allah yang di tanganNya perbendaharaan langit dan bumi, bagiNyalah kepemilikan dan bagiNyalah segala pujian dan Dia menyaksikan segala sesuatu. Dia memiliki hikmah dalam segala keputusannya baik dalam syari’atNya maupun dalam taqdir yang ditetapkanNya. Dia melakukan apa saja yang dikehendakiNya dan menghukum dengan yang Dia inginkan. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah, tidak ada syarikat bagiNya, Dzat yang Maha melindungi dan Maha terpuji. Dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad adalah hambaNya dan utusanNya, penutup para nabi dan merupakan pimpinan para nabi dan merupakan hamba yang paling mulia. Semoga Allah memberikan shalawat kepada Nabi dan kepada keluarganya dan para sahabatnya serta para pengikutnya yang setia dengan baik hingga hari kiamat.

Cari Blog Ini