Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Al-Quran. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 November 2010

Al Qur’an dan Sunnah adalah Segalanya

Dalam salah satu edisinya, majalah Ad Dakwah memuat salah satu fatwa Syeikh Ibnu Baz. Namun dalam fatwa tersebut terdapat kekeliruan karena fatwa tersebut dimulai dengan kalimat, ‘Sesungguhnya dalam mazhab (Hambali) hukumnya adalah demikian dan demikian’. Kalimat semisal ini jelas bukan berasal dari perkataan Syeikh Ibnu Baz. Beliau lantas memanggil penulis fatwa lalu berkata kepadanya, “Bacakanlah kepadaku”. Ternyata salah satu isinya, “Dalam mazhab (Hambali) hukumnya demikian dan demikian”. Beliau lantas berkata kepadanya, “Kami tidak pernah mengatakan, ‘dalam mazhab, hukumnya demikian dan demikian’. Yang kami katakan adalah firman Allah dan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah demikian.
Ada seorang penuntut ilmu berkata kepada Syeikh Ibnu Baz, “Wahai syeikh, engkau sering membaca buku-buku hadits dan perhatian dengan hadits”. Beliau lantas berkata, “Bukankah hakekat ilmu agama adalah hadits? Bukankah hakekat ilmu agama adalah hadits? Wahai fulan, taklid bukanlah ilmu, taklid bukanlah ilmu”.

Selasa, 11 November 2008

Surat Al Fatihah

Surat Al Fatihah merupakan sebuah surat paling agung di dalam al-Qur’an. Hal itu berdasarkan hadits Abu Sa’id bin Al Mu’alla yang dikeluarkan oleh Al Bukhari (hadits nomor 4474). Surat ini telah mencakup ketiga macam tauhid: tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ wa shifat. Tauhid rububiyah adalah mengesakan Allah ta’ala dalam perbuatan-perbuatan-Nya, seperti: menciptakan, memberikan rezeki, menghidupkan, mematikan, dan perbuatan-perbuatan Allah ta’ala yang lainnya. Maknanya Allah itu esa dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dalam hal mencipta, menghidupkan dan mematikan makhluk.

Sedangkan tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah subhanahu wa ta’ala dengan perbuatan-perbuatan hamba seperti: dalam hal berdoa, merasa takut, berharap, bertawakal, meminta pertolongan (isti’anah), memohon keselamatan dari cekaman bahaya (istighatsah), menyembelih binatang, dan perbuatan-perbuatan hamba yang lainnya. Maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap mereka untuk menjadikan segala ibadah itu ikhlas semata-mata tertuju kepada Allah ‘azza wa jalla sehingga mereka tidak mempersekutukan sesuatupun bersama-Nya dalam hal ibadah. Sebagaimana tiada pencipta kecuali Allah, tiada yang menghidupkan kecuali Allah, tiada yang mematikan kecuali Allah, maka tiada yang berhak disembah kecuali Allah.

Cari Blog Ini